Kemarin cukup memberi warna bagi kehidupan saya, pergi mengunjungi salah seorang teteh yang sudah berkeluarga, bertemu ‘dede’nya yang menggemaskan tapi cukup menghebohkan ‘umi’nya karena ga mau diem (pingin ngacak-ngacak apapun yang ada dihadapannya, heuheu).
Rumah yang sederhana menurut diriku saat ini, tapi entah untuk ‘aku yang masa depan’, berada dalam sebuah kompleks yang sama dengan rumah yang aku tempati, kesan pertama rapih dan bersih. Yang pasti banyak sekali buku-buku yang ‘berbobot’. (hoho,,,that’s so important)
Apa yang didapat kemarin? Makanan yang disajikan (???), tentang repotnya menjadi seorang ibu rumah tangga, (maybe), yang lebih urgent adalah tanggung jawab sebagai ibu rumah tangga, sebagai istri, sebagai ibu, sebagai manusia.
yang pertama, segala hal yang menyangkut dunia, seperti fisik, jabatan, harta tuh cuma aksesoris semata, jangan terlena dengan hal itu, justru yang terpenting adalah bagaimana mengelolanya agar bisa bermanfaat untuk kehidupan kita di dunia dan di akhirat nanti, singkatnya semua fasilitas yang Allah berikan itu hanya dijadikan mediator saja untuk menempuh perjalanan kehidupan kita. karena Allah tidak melihat wajah kita, harta kita, atau apapun itu, yang diliihat hati dan amalan kita sejauh mana potensi yang Allah berikan telah dioptimalkan. So, kecantikan bukanlah hal utama, hmmm definisi cantik sebenernya relatif, tapi sudah cukup dibiaskan dengan ciri-ciri putih, tinggi, langsing oleh media. Kalo boleh share, justru dengan cara pandang kita, pemikiran kita, hal kebaikan yang kita lakukan itu justru memberi nilai lebih, kalaupun bukan di mata manusia tapi toh dapet pahala dari Allah juga tho, ya kan? tentu dengan 2 syarat, niat yang lurus dan cara yang benar.
yang kedua, mendidik anak menjadi tanggung jawab orang tua, tolong digaris bawahi orang tua, bukan hanya ibu. Persiapan yang sangat urgent juga bagi siapapun orangnya, karena ini penting (katanya lho). Terlebih bagi seorang ibu, yang akan lebih banyak berinteraksi dengan anaknya. Ada pertanyaan ‘ waduh gimana dong, kita kan udah kuliah cape-cape masa Cuma di rumah aja, ga bisa diaplikasikan dong ilmunya?’ menurut teteh yang menjadi narasumber kemarin (nama tidak disebutkan, rahasia =p –red), beliau masih tetap beraktivitas, mengajar, bekerja, dan segudang aktivitas lainnya. Artinya selama masih diizinkan oleh suaminya dan sekiranya masih bisa menjalankan fungsi ibu terhadap anak dan suaminya dengan baik, that’s no problem, it’s okay…tapi ketika anaknya masih membutuhkan ASI, ini menjadi tanggung jawab penuh untuk ayah dan ibunya, kenapa??? perlu diketahui untuk bayi yang baru lahir hingga 6 bulan membutuhkan ASI eksklusif, artinya tidak ada suplai nutrisi lainnya yang ‘diperbolehkan’ masuk ke tubuh selain ASI. Kenapa harus ASI, karena ASI itu merupakan nutrisi yang mudah sekali dikonsumsi oleh sel tubuh manusia, karena merupakan komponen polisakarida yang sederhana. Selain itu, ASI mengandung bakteri probiotik, bifidobacterium yang menguntungkan untuk tubuh, karena dia dapat membantu sistem imun tubuh bayi yang baru lahir, nah perlu diketahui pula bahwa bifidobacterium ini eksklusif, hanya ada pada ASI, belum ditemukan di nutrition source manapun, bahkan ketika ditumbuhkan pada medium agar (inget pekerjaan lab, he..) akan sulit untuk tumbuh, luar biasa bukan. Keuntungan ASI lainnya adalah sebagai KB alami, dengan menyusui seorang ibu dapat menjadikan hormon-hormon yang membantu terjadinya kehamilan menjadi terhambat, kemudian memberi ASI bagi seorang ibu dapat membangun kedekatan antara ibu dan anaknya, menjadikan anaknya cerdas pula. so, untuk para calon ibu-ibu, jangan sia-siakan ASInya.
Setelah 6 bulan hingga 2 tahun suplai nutrisinya adalah ASI dan MP-ASI (makanan pendamping ASI). Ditambahkan dengan MP-ASI agar sang bayi mengenal ‘makanan-makanan manusia’ (wuih bahasanya) agar tubuhnya kini bisa mentolerir segala nutrisi, yang paling penting semakin usianya bertambah kebutuhan nutrisinya pun akan bertambah, makro dan mikronutrien yang dibutuhkan tidak cukup hanya disuplai dari ASI saja, harus disuplai dari luar. Sekarang sudah banyak produk-produk yang menawarkan makanan pendamping ASI ini dengan beragam cita rasa (teringat KP di PT xx). Subhanallah…nah calon ibu, saatnya untuk memikirkan masa depan sang buah hati (nanti ya maksudnya, hehe…)
Lalu ada pertanyaan, ‘bagaimana ketika sang ibu itu harus tetap beraktivitas di luar rumah, dengan konsekuensi meninggalkan buah hatinya?’ menurut narasumber, sang ibu dapat memompa ASInya untuk ditampung dalam wadah tertentu, kemudian disimpan di dalam lemari es. Suatu waktu bayinya menangis karena ingin makan, ASI tersebut dapat dihangatkan (tapi tetap memperhatikan kehigienisannya). Begitu ibu-ibu…
Lalu..lalu..(apa coba??)
Yang ketiga, (masih dari oleh-oleh jaulah kemarin) buat para akhwat/ wanita terutama yang masih lajang,,harap berhati-hati dalam berinteraksi dengan lawan jenis. Ada adab-adab yang mesti diperhatikan. (coba dibuka lagi catatan-catatan mentoringnya, siap), tentang ini insyaAllah akan dibahas di note selanjutnya.
*jaulah= berkunjung
For U, Kemuslimahan Al-hayaat
menulis dengan hati, menulis untuk cinta