Menjadi pemuda/i memanglah saat yang tepat untuk membentuk diri dan kepribadian pribadi. Segala hal yang berada dalam pikirannya diterjemahkan secara cepat dan terkadang diaplikasikan secara nyata. Pantas bila di zaman Rasulullah pun para sahabat yang kepribadiannya mempesona adalah hasil didikan sejak masa mudanya.
Teringat ketika zaman kuliah dulu, setumpuk cita-cita, segenggam harapan, sejuta mimpi hadir dalam benak, dan rasa idealisme yang menggelora yang terbentuk dalam diri menjadikan masa-masa itu merasa menjadikan hidup terasa lebih hidup.
Sekarang saatnya lebih membuka diri, lebih memahami situasi, kini diri yang sudah berkeluarga ini tidak bisa hanya mementingkan kepentingan pribadi saja, ada seseorang yang harus juga dipenuhi hak-haknya, ada calon manusia yang kini berada di dalam rahim yang butuh perhatian lebih pula dari dirinya.
Kalau boleh sedikit curhat, terkadang timbul keinginan kuat ingin kembali menuntaskan cita-cita yang awalnya sempat terpikir untuk dikubur dalam-dalam. Rasanya ingin sekali menyusul teman2 yang bisa menuntaskan kuliah mereka hingga ke jenjang yang lebih tinggi, melakukan research di negeri orang, melakukan segudang aktivitas tanpa khawatir akan ada seseorang yang mengkhawatirkan kita untuk segera kembali ke rumah.
Kini aku hanya bisa tersenyum dengan pola pikirku dulu yang ideal, pingin ini, pingin itu, harus ini, harus itu, yaa wahai masa mudaku aku sungguh salut pada dirimu tapi aku yakin kini aku bisa lebih menghargai hidup dan menerima segala yang telah menjadi takdir, karena ku yakin setiap yang diciptakan dan diperintahkan-Nya, pasti untuk kebaikan hamba-hamba-Nya.
Yang terpikir saat ini adalah ingin segera kembali membangun platform semangat dan cita-cita utuh sesuai dengan kondisi yang kini dijalani. Menuntaskan S2 kemudian pindah ke Jakarta, memulai hidup berumah tangga secara utuh, melayani suami, mendidik dan merawat anak, subhanallah, rasanya inilah sesuatu yang tepat yang bisa aku jalani untuk hari-hari kedepannya.
Lalu bagaimana dengan karirmu???? Rasanya berkeluarga juga bukan menjadi hambatan bagi seorang wanita untuk berkarir, tergantung tujuannya pula, dengan berkarir apa yang ingin diperoleh? membantu finansial keluarga misalnya, sepertinya tidak perlu menjadi seorang pegawai, banyak cara-cara halal lain yang bisa dilakukan misalnya dengan membuka usaha, justru peluang keberhasilannya cukup tinggi dan peluang waktu luang untuk keluarga akan lebih besar, jika tujuannya ingin bermanfaat bagi orang, sebenarnya tidak harus bekerja di perusahaan tertentu, masih banyak cara yang bisa ditempuh untuk menjadikan hari-hari kita berguna, atau alasan lain ingin mencerdaskan diri membangun jaringan menghindar dari kelumpuhan cara pandang dan berpikir, rasanya tidak harus menjadikan diri kita selalu berada di luar rumah untuk memperoleh hak ini, walau memang kemampuan bersosialisasi tetap harus dimiliki oleh seorang wanita yang sudah menikah pun.
Sebenarnya tidak ada yang salah jika memang suami ridho, anak-anak kita ikhlas membiarkan kita beraktivitas banyak di luar. Solusi yang praktis adalah bagaimana agar para wanita pun tetap memperoleh hak-haknya, baik mendapatkan kemampuan berpikir, membangun jaringan, melakukan hal-hal yang berguna, memperoleh hak finansial lebih.
Saya kagum dengan ibu dari suami saya, beliau rela meninggalkan karirnya untuk full berada di rumah, mengurus suami dan anak-anaknya, hal itu dibuktikan dengan karir suami dan prestasi anak-anaknya saat ini. Beliau tetap aktif di lingkungan masyarakat, walaupun mungkin jenjang akademiknya tidak tinggi tapi beliau memiliki cara pandang dan cara berpikir yang cerdas, mampu menerima hal-hal baru, menerjemahkan baik secara verbal maupun non-verbal dengan baik. Aktivitasnya sebenarnya cukup sederhana, menjalani hari-hari sebagai seorang ibu rumah tangga, tapi lihatlah apa yang dilakukan kesehariannya, mulai dari mengerjakan hal-hal teknis seperti memasak, mencuci pakaian, berbelanja ke pasar, menyetrika, mengelola keuangan keluarga, mendidik anak-anak hidup sederhana dan bersahaja, konsen terhadap pendidikan anak, mengelola aktivitas suami dan anak, manajemen waktu yang baik, selain hal yang teknis, ibu pun menjadi sosok yang dikagumi ayah dan anak-anaknya, cepat tanggap terhadap berbagai permasalahan, dan satu hal lain yang membuatku kagum adalah kemampuan memanaj harta menjadi sesuatu hal yang bermanfaat dan bisa mengaturnya menjadi lahan bisnis yang cukup baik. Sehingga tak berlebihan jika dkatakan ibu mertuaku ini adalah seorang ibu rumah tangga yang berjiwa sosial dan berjiwa bisnis. Hmm..rasanya ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi hidupku. =)
Comments on: "Perempuan: Mengalah untuk kebaikan" (8)
wiw aktivis banged^^
amin. pingin bisa meniti karir menjadi fitrahnya seorang wanita, mengurus suami, merawat dan mendidik anak, tapi pingin juga produktif di segala hal =)
like this post La..
tapi dalam perjalanan menjadi seorang istri, seorang ibu sekaligus meniti karir dan melanjutkan pendidika, tidak semudah yang dibayangkan.
banyak orang bilang, enak bisa kerja di rumah.. tapi yg saya alami, profesionalisme tetap dibutuhkan dan terkadang hak anak dan suami ada kalanya mesti dikesampingkan.
pun ketika kita memulai sebuah usaha di rumah, semua bisa kita nikmati setelah usaha itu berjalan lancar, ketika usaha itu baru kita mulai, kerja keras tetap dibutuhkan dan itu memakan effort yang ga sedikit termasuk ada saatnya kita mesti sangat sangat pinter berbagi waktu antara hak kita, hak suami dan hak anak..
moga lancar perjalanannya ya, say. love u fillah
syukron sa =)
ibu rumah tangga itu juga suatu karir loh..
iya ya,,tapi tetep weh beda pai, hehehe =P
great vision! (bukan begitu anwar?
)
*sedang mencari inspirasi, nyangkut di blog lala…
iya tinggal aplikasinya nih kang =)